Sunday, May 12, 2013

MALAM MINGGU TAK TERENCANA (Memandang Pantai Losari dari seberang)


Sore ini kuhabiskan dengan nonton film unduhan “Hansel & Gretel: Witch Hunters”. Tiba-tiba teringat kalo ini Satnite. Nelpon beberapa teman, tapi semuanya pada sibuk di dunia lain. Pengen solo party tapi logistik di kamar lagi kosong. Lirik dompet, isinya cuman lima ratus perak ^__^. Gak ada pilihan lain. Harus segera ke ATM. Pakean seadanya (gak mandi apalagi make up, hehehe) dan gak lupa nenteng kamera.

Ke ATM kok bawa kamera? … Biar keliatan sibuk, ^,^. Sebenarnya, keluar dari pintu kamar sempat mikir, "mo ngapain pake kamera?". Tapi udah males manjat tangga, … keputusannya: kamera ikut ke ATM.

Lepas dari ATM, niat berubah dari rencana pengen solo party, jadi pengen habisin malam panjang dengan teman-teman. Maka dengan Honda Blade, aku meluncur ke kos-kosan Agus. Biasanya malam minggu kayak gini kosnya si Agus rame sama para penikmat serial Spartacus atau film unduhan lainnya.

Apes, Agusnya gak ada. Cuman adiknya doang yang duduk manis nonton sinetron "Tukang Bubur Naik Kuda eps 7000" sambil makan kacang dan minum susu o__O. Nggak berniat mengganggu, aku pergi. Dengan demikian rencana berubah lagi. Mumpung bawa kamera, hunting malam.

Next destination, area reklamasi Pantai Losari yang katanya bakalan dibanguni Center Point Of Indonesia (CPI). Mungkin pemandangan indah saat malam di sana bisa bikin malam mingguku gak sekelabu malam ini --- langit terlihat tanpa bintang (jarak tempuh kurang lebih 10km dengan waktu 30 menitan dari rumah Agus). Itu pun pake macet. Maklum, malam minggu: yang punya kepentingan sampe yang nggak punya kepentingan pengen meramaikan jalanan).
Singkat cerita, aku udah sampe depan jalan masuk pulau itu. Pintu masuk pulau tersebut dipalang pake sebatang bambu (yang bikin pasti orang primitif kanibalis, hahaha).

Tiba-tiba ada cewek yang mendekatiku dengan tatapan sangar (emansipasi ternyata telah merambah dunia premanisme).

"Tiga ribu, Pak". Katanya ketus.

Masa bayar? Ini kan jalan umum, tukasku dalam hati.

Tapi, whateverlah daripada benjol (Pas disini soundtrack “Ya Sudahlah - Bondan” diputar)^___^.
Sepanjang jalan masuk yang berbatu dan gelap, setiap sisi kiri dan kanan penuh dengan orang yang lagi asyik pacaran. Tak sengaja (atau beruntung?) mataku menangkap adegan-adegan yang harusnya nggak dilakukan di tempat umum.

“ISTIGFAR oi. Ini jalanan!” Teriakku tapi nyangkut di tenggorokan, gak jadi keluar. Memahami dunia remang-remang jaman sekarang memang agak susah jika konsep di kepala masih etiket jaman pra-internet.

Entah malu atau cemburu, yang jelas, hanya aku yang datang tanpa pasangan :(. (Masih soundtrack “Ya Sudahlah - Bondan”).

Pelan-pelan kukeluarkan kamera, kayak slow motion di film Matrix. Takut dikira mo mengabadikan mereka yang lagi bercengkrama dengan cinta atau napsu (aku nggak ngerti). Maap, mbak-bro, I’m not pa-pa-paparazzi. Lagian, objek kayak gitu mana bagus di pajang di blog untuk orang sopan seperti saya, hahaha.

Mengingat sangat sulit motret dalam situasi minim cahaya, maka aku butuh sandaran buat kamera (lupa bawa tripod) biar gambar nggak kayak hasil motret alam lain, so jadilah sadel motor sebagai stabilizer. Bayangkan posisi motret dengan situasi seperti itu. Pasti gaya motretnya jadi abnormal (You must imagine it!). Tapi demi hasil yang keren, apa boleh buat tai kambing bulat-bulat ... hitam dan kecil-kecil lagi. (Kok jadi deskripsi tai kambing ... gak mutu). Nah, untuk mengurangi flare akibat spotlight dari beberapa bangunan tinggi, saya menggunakan hood.


Pokoknya, inilah hasil bidikanku malam ini. Just enjoy it.












 And this is me the author and photographer :






Post a Comment