Saturday, April 5, 2014

MENYUSURI SUNGAI TALLO (Kelurahan Lakkang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia)

Setelah mengajar, rencananya siang ini aku mendesign id card buat pengawas ruang UN 2014. Tetapi, komputerku di sekolah lagi ngambek. Setiap kali kutekan tombol power, dia hanya memberi tanda-tanda kehidupan sedetik. Artinya, bukan masalah pada power supply tapi sepertinya mainboardnya harus diganti. Nah, berhubung masalah penggantian itu harus menghubungi orang-orang di level atas yang kebetulan lagi nggak ada di tempat, akhirnya aku memutuskan untuk go-go-going home.

Sesampai di rumah, aku malah bingung mau ngapain. Makanya, kutelepon Patrick dan Matuh untuk menghabiskan sore di Lakkang. Nggak lama kemudian mereka tiba di rumah dengan penampilan a la bolang. Karena cuaca masih terlalu panas untuk jalan, mereka memutuskan untuk menghabiskan semua yang ada di meja makanku dengan gaya omnivora sejati. Setelah kenyang mereka pun tertidur untuk melupakan segala beban hidup akibat cinta dan cita-cita (... ebuset!).

Mengingat waktu dan cuaca yang semakin gak jelas, kubangunkan mereka tanpa kata-kata (hanya dengan sebuah tendangan tanpa bayangan). Mendung yang datang dari utara gak menyurutkan semangat kami. Bahkan ketika desah rintik hujan mulai membasahi, kami tetap berangkat.

Pukul 15.14 kami tiba di Dermaga Kera-Kera untuk selanjutnya menuju ke Lakkang. Hujan belum berhenti dan cenderung melebat (maksudnya semakin lebat ... menurut kamus bahasanya Vicky Prasetyo) tapi kami tetap menikmati perjalanan itu dengan bercanda dan berfoto dengan Sony Xperia G-nya Patrik yang anti badai. Bahkan sebuah film dokumenter abal-abal dan penuh imajinasi tingkat tinggi pun tercipta (beberapa video yang nggak mungkin saya upload di sini karena sangat memalukan untuk dipublikasi).



Lakkang merupakan nama sebuah pulau yang terbentuk dari delta dominasi sungai Tallo. Secara administratif, pulau ini merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Tallo, Kota Makassar dengan luas daratan sekitar 160-an hektar. Kelurahan Lakkang, dihuni oleh 131 KK yang kebanyakan bekerja sebagai petambak dan nelayan. Makanya kita bisa menemukan tempat pemancingan umum yang dikelola oleh warga di sini.

Meskipun disebut sebagai kelurahan namun suasana di tempat ini sangat asri karena tak ada jembatan atau jalan penghubung ke pulau itu. Satu-satunya akses menuju ke sana adalah dengan menyusuri Sungai Tallo menggunakan perahu selama 15-20 menit. Kehidupan di sini lebih mirip kehidupan di desa yang diwarnai dengan jalan-jalan setapak tak beraspal, empang, sawah, kebun, dan pohon-pohon yang rimbun. Di sini kita juga dapat menemukan beberapa bunker yang berukuran kurang lebih 2 x 2 meter. Bunker-bunker yang merupakan peninggalan tentara Jepang sewaktu menjajah Indonesia ini nampak tak terawat sehingga kelihatan seram ketika memasukinya apalagi pada saat matahari terbenam.

Sebenarnya yang paling menarik menurutku, bukanlah desanya tetapi perjalanan menyusuri sungai Tallo karena kita pasti disuguhi pemandangan yang super keren. Berbagai jenis burung dan ikan menemukan suakanya di sepanjang sungai ini. Meskipun sudah berkali-kali ke sana, aku masih memilih tempat ini sebagai salah satu tempat untuk membasuh jiwa dan dan raga.

****
Berikut merupakan foto-foto ke Lakkang yang kurangkum dari beberapa kali perjalanan menyusuri Sungai Tallo.




















*******

And this is me, the author and the photographer:






The story is under construction. Sila mengunjungi post saya sebelumnya.
I sincerely appreciate your taking time to provide your comments and feedback (by clicking on reactions or rate it). Jangan lupa, join this site. Thanks.
 
Maaf bagi temen-temen slalu nelpon atau sms atau chat via FB minta ikutan dalam trip kami. Bukan bermaksud jahat tak mengajak kalian. Perjalanan yang kami tempuh selama ini pasti terasa berat, tidak menyenangkan, dan membosankan bagi kalian yang memang hanya ingin bersantai. Seringkali, kami menempuh resiko tersesat dan masuk di daerah yang kurang ramah terhadap orang luar. Aku tidak ingin menabrakkan kebetean kalian dengan keindahan dunia ini. Atas pengertiannya aku ucapkan terima kasih.

Oh iya, satu lagi, penampakan foto-foto yang ada di blog ini sudah dipress sedemikian rupa sama penyedia layanan blog ini (blogspot.com). Maka hasilnya pasti agak gimana gitu ...

Thanx to:

  1. Keluarga besar Komunitas Pencinta Alam - Pintas.
  2. Member of Group : Maria Triselia 'Mariconk' Guhar, Ignatius Matuh, dan Patrick Wulaa Petrus.
  3. The participant: Mardha Afriliani.
  4. Patrick dan Melky Meko untuk foto diriku yang saya upload juga di sini.
Post a Comment