Sunday, May 4, 2014

PULAU PODANG-PODANG CADDI (Desa Mattiro Dolangeng, Kecamatan Liukang Tupabiring Utara, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan)


Sepulang dari Cangke hari ini, kami langsung menuju Makassar dan nggak singgah-singgah di pulau lainnya. Dalam perjalanan tersebut, terjadi sebuah kejadian konyol. Kapal motor yang kami tumpangi hampir menabrak Pulau Podang-Podang Caddi. Sejak melewati Pulau Lamputang, arah kapal sudah membingungkan. Aku sempat berkata sama Arnold, "Bro, keliatannya kapal ini menuju ke Podang-Podang Caddi. Padahal tadi bilangnya nggak singgah-singgah".

"Mungkin ada yang mau dijemput di sana," jawabnya ragu.
Kuambil kamera dan mengeker pulau itu dengan menzoom-in lensa sapu jagad tapi dari penampakannya, nggak ada tanda-tanda ada orang menginap di pulau tersebut.
Kapal semakin mendekat ke pulau dengan kecepatan sekitar 10-an knot. Tiba-tiba Pak Gafur, sang kapten yang lagi asyik menelpon, terlihat kaget ketika menyadari arah kapal yang nggak semestinya. Dia berteriak-teriak membangunkan  anaknya (atau anak buahnya?) yang sedang memegang kemudi dengan posisi bending style (persis di iklan "mizone"), mata terpejam, dan mulut sedikit terbuka. Dia tertidur, pemirsa! Pantasan pulau segede itu nyaris ditabraknya. 

Menatap Podang-Podang Caddi dari jarak dekat kembali mengingatkan saya pada sebuah perjalanan yang pernah kulakukan bersama sebagian dari teman-teman trip ku hari ini.

Ceritanya begini:

Sabtu, 13 April 2013 (2 hari sebelum Ujian Nasional SMA terkacau sepanjang sejarah negara ini bahkan mungkin sepanjang sejarah umat manusia), sesuai dengan pesan-pesan Arnold yang ditulis tanggal 10 April 2013 di akun facebook "KPA PINTAS" kami berkumpul di rumah Agus dan bersama-sama menuju Paotere. Tidak seperti biasanya, kali ini kami harus menggunakan 2 buah angkot (orang makassar menyebutnya "pete-pete") saking banyaknya perlengkapan, logistik, dan 22 'bocah petualang' yang sangat antusias untuk petualangan kali ini. Yang spesial kali ini karena salah satu personel Pintas membawa istri dan anaknya untuk ikut berpetualang ke pulau ini (two tumbs deh buat keluarga Ito, Mawar dan little Queensa).

Di dalam angkot yang tak punya AC itu, kami berdesak-desakan seperti ikan sarden yang bercampur dengan berbagai macam perlengkapan serta logistik berupa beras, sayur, ikan, dan bumbu-bumbunya. Karenanya, waktu terasa sangat lama hingga akhirnya sampai juga kami di samping Pelabuhan Paotere yang sangat ramai. Namun penderitaan belum berakhir. Bau pasar, air laut, ikan, manusia, dan asap dari knalpot kapal bercampur menjadi satu. Belum masuk kapal, perut sudah bereaksi sedemikian rupa. Belum lagi matahari yang sepertinya nggak peduli dengan makhluk semacam saya yang berkulit eksotis, hahaha. Perjalanan yang sangat menyiksa tapi semua manusia dalam rombongan itu tetap semangat.

Kapal motor yang bernama "Prima Abadi" itu pun membawa kami melintasi pesisir barat Pulau Sulawesi, melewati gugusan spermonde yang mengundang untuk dikunjungi suatu hari nanti. Beberapa kali aku melihat ikan-ikan kecil terbang menjauh ketika jolloro kami melewati mereka. Angin laut, langit biru, percikan-percik ombak yang kadang membasuh wajah kami yang nongkrong di atas kapal sedikit mengobati teriknya sinar matahari yang napsu banget menggosongkan kulit kami. Keadaan ini berbanding terbalik dengan beberapa teman cewek yang menghuni lambung kapal, mereka harus puas berebut tempat dengan sesaknya ibu-ibu dan seabrek barang belanjaannya. Udara yang hanya sekilas berhembus, sesaknya penumpang, aroma-aroma khas keringat, bau solar dan goncangan kapal membuat mereka harus rela mengeluarkan sebagian  isi perut mereka (jackpot, yeahhh....).

Setelah 2 jam melewati ombak dan panas, sampailah kami di pulau tujuan, Podang-Podang Caddi. Dulu pulau ini bernama Podang-Podang Lestari (ini serius ...) tapi karena ada artis yang juga memakai nama belakang Lestari maka digantilah nama pulau tersebut (hahaha ... yang ini bercanda). Ketika semua telah turun dari kapal, Arnold memimpin doa dan briefing singkat untuk menyampaikan hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan (termasuk tata tertib) selama di pulau tersebut. Abis itu, kami mencari tempat memasang parameter. Para cowok bertugas memasang tenda dan cewek-cewek mempersiapkan dapur.

Setelah semuanya selesai, saatnya mengambil kamera dan menanti sunset. Beberapa teman langsung terjun ke laut menikmati pantai yang hangat dan pasir putih selembut tepung. Langit sore di pulau ini sangat indah. Hingga gelap menjelang, aku masih terus asyik menikmati pemandangannya dengan kamera yang kusetting asal-asal. Sayang sekali, ketika gelap datang, tak ada penerangan sama sekali kecuali headlamp dan api unggun. Kegiatan potret memotret pun ku akhiri sampai di situ. Satu hal yang kusadari, semakin gelap tempat kita menatap langit, maka semakin banyak bintang yang dapat kita lihat. Demikian pula jika memotret. Semakin gelap, semakin banyak bintang yang bisa kita potret.

Sementara teman-teman mempersiapkan makan malam, aku memasang hammock untuk kutiduri malam itu. Ito membantuku setelah dia memasang hammocknya sendiri 2 meter di sebelahku, dekat dengan tenda cowok. Malam kelihatan sangat cerah sehingga tidur di hammock merupakan pilihan yang tepat. Setelah makan malam berupa nasi dan ikan bakar, aku langsung menuju hammock dan mengamati hasil jepretanku sore tadi via kamera. Patrick, Arnold, dan Matuh kembali berendam dan mencari hewan laut yang berkeliaran ketika malam. Sesekali terdengar mereka tertawa bahagia atau berkata, "Keren! Kerennya!". Tapi ndak ada seorang pun yang tertarik dengan apa yang mereka lihat karena semuanya lebih suka berada di darat menikmati kopi dan jagung bakar daripada berendam dalam air di saat waktu sudah hampir pkl. 21.00.

Tak lama berbaring di hammock, semua indera ku tiba-tiba mati rasa. Aku tertidur. Namun, sekitar pukul tiga dinihari, aku terbangun oleh angin yang rasanya semakin dingin menusuk kulit. Ku amati sekeliling, teman-teman tampaknya sudah pada tidur karena sekitar tenda mereka tak ada aktivitas. Kucoba melanjutkan lagi tidurku. Tetapi rasa dingin itu semakin aneh lagian kandung kemihku terasa sangat penuh. So, aku bangun untuk mencari tempat yang pas buat memenuhi hasrat ingin pipis itu. Tiba-tiba dari dalam pulau terlihat beberapa bayangan putih melintas. Wah, datang lagi makhluk beginian, pikirku. Gak di gunung, gak di pulau, mereka selalu saja ada. Sendainya saya Goku sudah saya kamehameha mereka.

Habis pipis aku mulai mengambil kamera dan mencari hewan-hewan yang nongol malam-malam (nokturnal). Tapi hingga pagi menjelang, nggak ada satu pun yang muncul. Aku hanya menemukan Agus, Nyong, dan Conk terlelap di atas matras tepat di pinggir pantai. Kuputuskan menunggu sunrise saja di salah satu sudut pulau. Tapi mentari pagi yang kutunggu nggak muncul secara spektakuler. Terlalu banyak awan sehingga matahari munculnya sangat samar. Nggak asyik untuk di potret. Teman-teman yang juga berniat memotretnya pun terlihat kecewa dan hanya berkeliling pulau yang lebarnya kira-kira sama dengan lapangan sepakbola itu.

Pulau Podang-Podang Caddi merupakan sebuah pulau yang nggak memiliki penghuni kecuali seekor kucing yang sempat kulihat berada di sana. Tempat ini bagi masyarakat setempat dijadikan sebagai tempat buang sial. Makanya jangan heran jika  ke sana dan masuk ke dalam pulau kamu akan menemukan benda-benda aneh yang sengaja diletakkan di sana oleh penduduk. Beberapa kuburan nampak berjejer rapi di dalam pulau sehingga menambah keangkerannya. Tapi meskipun rada-rada spooky, tempat ini merupakan salah satu tempat terindah yang pernah kukunjungi.


******


Berikut merupakan hasil jepretanku selama di Pulau Podang-Podang Caddi :


















*******

And this is me, the author and the photographer:






The story is under construction. Sila mengunjungi post saya sebelumnya.
I sincerely appreciate your taking time to provide your comments and feedback (by clicking on reactions or rate it). Jangan lupa, join this site. Thanks.



----------------------------------------------------------------------------------
Thanx to:

  1. Keluarga besar Komunitas Pencinta Alam - Pintas, Paroki St. Paulus-Tello Makassar.
  2. Member of Group : Arnoldus Dp, Ignatius 'Nda Tau' Matuh, Patrick Wulaa Petrus, Yohanes 'Nyong' Petrus Alfonsus, Stella Alexander, Nugraha "Memet" Hariandja, Katarina "Kajol" Elsa, Melky Meko, Maria Triselia Guhar, Titor Efrem Nurak, Agustinus Duma, dan Markos Y. Kahia.
  3. The participant: Ronald V.P. , Veronica Leong, Mawar, Emmanuella Lassa, Richarnot Toban, Rulin, Oveliag, Butet dan si kecil Queensa.
  4. Maria Guhar untuk foto diriku yang saya upload juga di sini.
Post a Comment