Kamis, 06 Juni 2013

MENCARI PANTAI PUNAGA (dusun Barugaya, Kelurahan Cikoang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan)

"Bro, saya dan Patrik sudah di basecamp." Sms itu dikirim Matuh tadi pagi. Segera kukenakan semua kelengkapan outdoor gear yang sudah kusiapkan kemarin malam. Mengunci kamar, pamit sama adik-adik, starter motor, dan go..go..go. Our destination kali ini adalah Pantai Punaga. Gak tau kenapa dinamakan demikian. Mungkin karena di pantainya ada naga atau pantainya mirip naga, i didn't know. I really had no idea about the beach.

Sampai basecamp, Matuh dan Patrick sudah menunggu, kami langsung berangkat. Bermodalkan google map, bertiga, kami menyusuri sepanjang pantai barat Makassar, Gowa, dan Takalar. Jarak tempuh sekitar 90-an km dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam. Di daerah Tala-Tala kami singgah, ngopi-ngopi, dan mengkonfirmasi apakah jalan yang akan kami lalui benar-benar menuju Pantai Punaga atau nyasar ke tempat lain, misalnya, Disneyland, Neverland, atau Kuvukiland-nya Mr. Bones.

A = Basecamp, B = Pantai Punaga (Mohon maap sekeluarga karena anda harus melihat dengan kaca pembesar huruf A dan B)


Ikan tembakul
Meskipun sudah menggunakan google map, kami masih harus bertanya pada beberapa orang yang kami jumpai di jalan, jaga-jaga jangan sampai lost in nowhere. Masalahnya, daerah Topejawa, Punaga, dan Puntondo tidak terpetakan dengan baik dalam gadget dengan sistem navigasi google karena signal gak stabil. Mungkin harus punya GPS ya?

Toh, kebablasan juga meski sudah rajin bertanya. Kami terdampar hingga dusun Puntondo. Untunglah pemandangan di sana juga keren. Kami pun memutuskan beristirahat di situ sambil menikmati pasir putihnya dan mengamati ikan-ikan kecil yang bisa jalan di atas batang-batang kayu (ikan tembakul). Semua bekal berupa roti dan aqua juga kami habiskan di sana (lapar dan haus stadium 4!). Abis makan kami mulai beraksi seperti anak kecil yang baru melihat laut. Hampir lupa kalo destinasi yang sesungguhnya adalah Pantai Punaga. Btw, karena PPLH Puntondo merupakan target operasi selanjutnya, maka tulisan mengenai Puntondo akan ada di edisi selanjutnya.

Gaya motret kedua orang ini  menunjukkan kalo mereka memang pro dan dapat dikategorikan dalam 7 gaya motret terbaik  on the spot-nya Trans 7.
Sedangkan gaya motret seperti ini menunjukkan kalo orang ini kurang tinggi tapi tetap tampan, hehehe.
Setelah tersadar dari euforia panorama Puntondo, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Punaga. Itu artinya, kami harus berbalik arah sebab jalan menuju Punaga, telah terlewati. Karena gak ada penunjuk jalan, maka kamu harus rajin bertanya. Setelah melewati Topejawa, di pertigaan Puntondo dan Punaga, aku lihat ada penjual bensin eceran. Oleh karena itu, kamu kudu rajin bertanya sama siapa saja yang menjual bensin eceran di daerah tersebut (itung-itung bergaul dengan penduduk sekitar).

Dari pertigaan, kami masih harus mengendarai motor ke Barat. Sepanjang jalan yang ternyata panjang, hati ini selalu bertanya, "kapankah pencarian ini akan berakhir?"

Setiap sisi jalan diamati dengan cermat untuk mencari tanda-tanda Punaga. Hingga akhirnya, tibalah kami di suatu tempat dengan spot yang indah (sekitar 3 - 4km dari pertigaan). Di tempat tersebut ada 3 buah villa dan sebuah bungalow. Kami memberanikan diri masuk ke pintu gerbangnya. Tiba-tiba dari balik sebuah pohon besar muncul seorang bapak. Kumisnya tebal, giginya jarang-jarang berwarna kuning kecoklatan, tatapannya nanar, badannya kurus, dan memegang sapu (jreng-jreng-jreng). Kami terpana beberapa saat ketika menyadari kehadirannya, mencoba menganalisis apakah makhluk ini termasuk makhluk yang bisa ditanyai atau ... sejenis makhluk dari dunia lain.

"Maaf, Pak. Kalau boleh tahu, daerah ini namanya apa?" Tanya Patrick ragu-ragu karena di tempat ini memang gak ada papan atau apalah yang menunjukkan nama daerah ini kecuali sebuah gapura terakhir yang bertuliskan "Dusun Barugaya".

Bapak itu tersenyum (ternyata bisa senyum, bray!). Sebuah senyum yang gaul dan eksotik.
"Pantai Punaga, dek," jawabnya.

Dengan jawaban itu maka berakhirlah sudah pencarian kami.

"Boleh numpang parkir di sini, Pak," tanya Patrick lagi.

"Ooh, boleh. Silahkan!" Dengan ramah, Bapak itu mengarahkan kami untuk parkir secara aman.

Kebiasaan anehnya Matuh.
Segera setelah itu, kami mulai mengambil kamera dan memotret apa pun yang bisa kami potret tapi gak berenang. Padahal Matuh sudah tergoda sama pantainya yang landai meski berbatu-batu (dia 'kan makhluk amphibi). Sayang sekali, kami gak bawa baju ganti karena gak tau kalo pantainya ternyata bisa dipake berenang. Sungguh berbeda dengan informasi yang kami terima sebelumnya yang mengatakan bahwa lautnya curam dan gak memungkinkan orang untuk berenang. Lagian, awan gelap yang datang dari sebelah timur seakan-akan mengancam keberadaan kami di sana.
 
Pantai Punaga diapit oleh 2 buah tebing pantai dan keduanya menjorok ke laut. Karakteristik pantainya berbeda dengan Puntondo dan ke-awesome-annya gak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Menikmati tempat ini dan menenangkan urat-urat syaraf dengan pemandangannya, seem like a good idea. Meskipun kita memahami bahwa manusia adalah rekan kerja Tuhan untuk menjaga dan memelihara bumi ini (lih. Sollicitudo Rei Socialis art.29), namun itu bukan berarti kita nggak boleh menikmati keindahannya.
Mau menikmati hidup atau mengakhirinya, Bro?
Cintailah ploduk-ploduk Indonesia!


FYI, karena villa yang tersedia merupakan milik pribadi maka harga villa ditempat ini bervariasi, tergantung jumlah orang yang menginap. Pokoknya, saat aku nulis ini, per orang IDR 20k. Trus, kalo parkir, kamu harus ngerti sama yang jaga kendaraanmu. Untuk itu, gak ada tarif khusus. Seikhlasnya saja. About konsumsi, kamu bisa sediakan sendiri. Sekedar usul, pesanlah ikan pada nelayan setempat melalui Daeng Ngalle, si penjaga villa. Jangan lupa, sering-seringlah senyum pada masyarakat sekitar yang menandakan kamu orangnya peace, love, and geol getoh loh.


***

Dan inilah foto-foto keindahan "Pantai Punaga":










*******

And this is me, the author and the photographer:





I sincerely appreciate your taking time to provide your comments and feedback (by clicking on reactions or rate it). Jangan lupa, join this site. Thanks.



----------------------------------------------------------------------------------
Thanx to:

  1. Keluarga besar Komunitas Pencinta Alam - Pintas, Paroki St. Paulus-Tello Makassar.
  2. Member of Group : Patrick Wp dan Matuh.
  3. Honda Blade -ku yang terkasih
  4. Canon 60D dan 1000D ku yang keyen.
  5. Matuh dan NIKON D3100-nya
 
Poskan Komentar