Sunday, July 21, 2013

PULAU GUSUNG a.k.a LAE-LAE CADDI, (Kelurahan Lae-Lae, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar)


Hari ini hari Minggu. Seperti biasa aku bangun pagi-pagi, minum kopi, lalu mulai membersihkan kamar dan mencuci pakaian (yang sudah seminggu bertumpuk). Untung ada mesin cuci. So, tugas berat itu gampang diatasi. Maklum, saya gak hobi mencuci. Abis itu masak indomie pake telor, nasi, dan cah kangkung. Gak lupa sediain cabe merah 5 biji biar makan lebih semangat. Hidup yang sangat nyaman untuk makhluk seperti saya. Istri tak punya, anak apalagi, … di tengah keramaian, itu adalah kesepian yang sempurna, hahaha.

Well, bro. Aku gak mau menyelesaikan hari ini tanpa petualangan. Maka kuputuskan untuk mengunjungi pulau sepi terdekat: Pulau Gusung a.k.a Lae-Lae Caddi (Lae-Lae Kecil). Beberapa teman yang kuhubungi tak dapat menemani perjalanan kali ini. Akhirnya, ku ajak saja adikku, Andre, untuk menjadi assisten perjalanan. Dengan mengendarai motor, kami menuju pelabuhan kayu Bangkoa untuk menyeberang ke Pulau Gusung. Meski pelabuhan ini agak tersembunyi, kita gak perlu perlu susah-susah mencarinya karena di depan lorong yang mengarah ke pelabuhan tersebut para nelayan terlihat meneriakkan nama-nama pulau seperti “Samalona” dan “Lae-Lae”.

Ketika parkir, seorang nelayan datang menghampiriku, “Mau ke mana ki, Bos?”

“Ke Gusung,” jawabku. “Berapa?” Aku menanyakan harga.

“Berapa orang ki kah?” Tanyanya.

“2 orang ji.”

“Aih, mahalki kalo 2 orang ja ki karna ndak ada orang yang mau ke sana kecuali kita.”

“Jadi berapa mi itu?”

“100 ribu,” jawabnya kelihatan ragu-ragu.

“Pas-nya berapa?” Aku mulai menawar.

“80 ribu pulang pergi.”

“Sip.”

Gak jauh dari situ sepasang turis Jerman berhasil menawar 50 ribu untuk sampai di Samalona padahal pulau itu jaraknya 3 kali lipat dari Pulau Gusung. Aku menyesal. Tapi apa boleh buat nasi sudah jadi bubur kacang ijo. Itung-itung amal di bulan Ramadhan. Lagian, mungkin mesti jadi bule baru bisa dapat harga segila itu.

Sampai di Pulau Gusung, kami dihadapkan pada tumpukan bebatuan  yang disusun memanjang dari utara ke selatan untuk memecah ombak. Tempat ini sebenarnya indah namun sayang sekali tak ada satu pun tempat bernaung dari terik matahari. Begitu menemukan spot yang tepat aku mulai masuk ke dalam air dengan cukup yakin jika peralatan elektronik yang melekat di badanku semuanya waterproof. 5 menit di dalam air, aku mulai menyadari bahwa ada 1 benda yang belum kuselamatkan. HP cdma yang baru kubeli beberapa yang waktu yang lalu telah menemui ajalnya di tempat ini.


Pulau ini lebih populer dengan nama Gusung. Jaraknya kira-kira 1,5 km dari Pelabuhan Bangkoa, dengan luas kira-kira 2 ha. Posisi pulau ini berada di antara Pulau Lae-Lae dan Pulau Kayangan. Sebenarnya pulau ini bukanlah pulau tetapi sand barrier yang dibangun oleh Pengelola Pelabuhan Makassar sebagai pemecah gelombang, sekaligus melindungi kawasan Pelabuhan selama musim Barat. Pulau ini dihuni oleh 4 kepala keluarga padahal terdapat tanda larangan mendirikan rumah di situ. Untuk dapat menikmati sore di tempat ini sebaiknya anda datang pagi-pagi dan pulang ketika matahari mulai tinggi.



***

Dan inilah foto-foto keindahan Pulau Gusung (Lae-Lae Kecil) :




*******

And this is me, the author and the photographer:


I sincerely appreciate your taking time to provide your comments and feedback (by clicking on reactions or rate it). Jangan lupa, join this site. Thanks.



----------------------------------------------------------------------------------
Thanx to:

  1. My brother, Andreas Okky Reston.
  2. Honda Blade -ku yang terkasih
  3. Canon 60D dan 1000D ku yang keyen.
Post a Comment